Beranda > Al-Hadits, Al-ilmu, Hukum Islam > Menjawab Telepon ketika shalat

Menjawab Telepon ketika shalat

MENJAWAB TELEPON KETIKA SHALAT

Lajnah Daaimah ditanya:

“Sebagian kaum muslimin mengerjakan salah satu shalat di rumahnya, tiba- tiba telepon berdering, dan deringan ini menyibukkan mereka dalam waktu yang lama. Apakah dibolehkan dalam kondisi seperti ini seseorang yang shalat maju atau mundur untuk mengangkat telepon dan dia bertakbir atau mengangkat suaranya ketika membaca bacaannya agar yang menelepon mengetahui bahwa dia sedang shalat, diqiyaskan kepada bolehnya orang yang shalat membuka pintu atau mengangkat suaranya kepada yang bertamu?

Lajnah menjawab:

إذا كان المصلي بالحالة التي ذكرت وأخذ التليفون يرن جاز له أن يرفع السماعة ولو تقدم قليلا أو تأخر كذلك أو أخذ عن يمينه أو شماله بشرط أن يكون مستقبل القبلة وأن يقول (سبحان الله) تنبيها للمتكلم بالتليفون لما ثبت في الصحيحين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي وهو حامل أمامة بنت ابنته فإذا ركع وضعها وإذا قام حملها، وفي رواية مسلم : وهو يؤم الناس في المسجد ولما روى أحمد وغيره عن عائشة رضي الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في البيت والباب عليه مغلق فجئت فمشى حتى فتح لي ثم رجع إلى مقامه ووصفت أن الباب في

القبلة وما رواه البخاري ومسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من نابه شيء في صلاته فليسبح الرجال وليصفق النساء

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

“Apabila orang yang shalat keadaannya seperti yang disebutkan, kemudian telepon berdering, boleh baginya mengambil telepon tersebut meskipun dia harus maju atau mundur sedikit, atau dia mengambilnya dengan tangan kanannya atau tangan kirinya dengan syarat tetap menghadap kiblat sambil mengucapkan “Subhanallah” untuk memberi peringatan kepada orang yang menghubungi lewat telepon. Berdasarkan yang shahih dalam shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, mengerjakan shalat sambil menggendong Umamah Bintu Zaenab anak beliau, jika beliau ruku’, beliau meletakannya, dan jika berdiri maka beliau mengambilnya kembali. Dalam riwayat Muslim: disebutkan bahwa beliau menjadi imam manusia di masjid. Juga berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad dan yang lainnya dari Aisyah radhiallahu anha berkata: pernah Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, shalat di rumahnya, dan pintunya dalam keadaan tertutup. Lalu aku datang, maka beliau berjalan hingga membukakan pintu untukku lalu beliau kembali ke tempatnya semula dan Aisyah menyebutkan bahwa pintunya berada di bagian kiblat. Juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallah bersabda:

“siapa yang digangguh sesuatu dalam shalatnya maka hendaknya kaum lelaki bertasbih dan kaum wanita menepuk.”

Wabillahi At-Taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Lajnah Daaimahlil buhuts iliyah wal-ifta

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baaz

Wakil ketua: Abdur Razzaq Afifi

Anggota:

1. Abdullah bin Ghudayyan

2. Abdullah bin Qu’ud

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: